Seringnya, saya menuliskan hal-hal dan pemikiran penting itu pada situs-situs micro blogging yang dapat kita update hanya dengan satu kalimat saja. Hal itupun akan terasa wajar, namun terlalu sering menuangkan pemikiran dengan cara tersebut membuat saya kurang sabar, kurang berpikir panjang dan akan mudah sekali berganti-ganti fokus pikiran, alias gak fokus. Karena satu kalimat tersebut akan dengan mudahnya “disamber” orang lain dengan topik yang benar-benar melenceng jauh, padahal saat itu kita benar-benar sedang ingin membahas topik yang (menurut kita) bermutu.
Oleh karena itu mau tidak mau, aktivitas menulis dalam blog yang mampu menampung kalimat-kalimat yang lebih panjang (seperti di kompasiana ini) sangatlah diperlukan. Menulis seperti ini bisa menjadi terapi karena terdapat kaidah-kaidah tertentu dalam mengungkapkan tiap isi pikiran kita. Menulis akan sangat berbeda dengan hanya “curhat” dalam tulisan. Dan bagaimana membuat orang tertarik dan terpengaruh oleh sebuah tulisan-pun perlu jam terbang dan teknik lebih lanjut.
Walaupun tidak dapat dipungkiri bahwa gambar merupakan bentuk terbesar memori otak kita, tetapi merangkaikan kata demi kata dalam sebuah tulisan merupakan hal lain yang kata orang sangat diperlukan untuk belajar berkomunikasi (menurut Wenburg dan Wilmot, komunikasi adalah sebuah usaha untuk memperoleh makna - dari buku 9 Matahari, Adenita) Dan seringnya keberhasilan hidup kita diukur dari kemampuan kita untuk berkomunikasi, pertama dengan diri sendiri, lalu selanjutnya adalah kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain.
Okay, lalu yang ingin saya tuliskan disini sebenarnya adalah tentang beberapa kalimat di sebuah buku yang rasanya…penulisnya seperti sangat “mengerti” apa yang sedang saya alami, meskipun sebagian besar fakta yang ada membuat saya jauh lebih bersyukur. Dengan kata lain, keadaan saya jauh lebih baik dari tokoh yang diceritakan dalam buku itu. Adalah buku 9 matahari yang belum selesai saya baca (baru separo) tapi beberapa kalimat dalam buku itu membuat saya merasa “ditemani” dan diingatkan kembali tentang beberapa nilai positif dalam hidup. Oleh karena itu, supaya makna yang mendalam itu tidak luntur dan terlupakan dengan segera, saya harus menuliskannya disini. Mba Adenita, tulisan Anda sangat membantu saya, semoga tidak berhenti sampai disini, tapi tetap dapat saya “buka” lagi sampai kapanpun.
Buku ini bercerita tentang perjuangan seorang perempuan dalam menggapai cita-cita dan impian yang diinginkannya. Bagaimana dia merasa pernah putus asa, sampai tidak dapat membedakan mana hal yang sudah terjadi, belum terjadi dan hal-hal yang merupakan khayalannya saja. Terdengar klise memang, tapi jika hal ini sedikit banyak mempunyai kesamaan dengan apa yang Anda rasakan, tentu saja hal ini akan menjadi istimewa.
Bagian yang sampai saat ini paling menyentuh saya adalah ketika diceritakan bahwa Matari (tokoh utama) mengalami puncak depresi selama 3 minggu. Lalu ketika lewat 3 minggu, dia diperkenalkan tentang “sekolah kehidupan” oleh Ibu sahabatnya. Dia disadarkan tentang kemungkinan bahwa dia adalah “Peri Cahaya” dalam kehidupan keluarganya. Dia disadarkan tentang betapa berharganya dirinya.
Pelajaran pertama adalah tentang “ikhlas”…ikhlas dengan segala keadaan dan kejadian yang pernah kita alami…
Matari : “Lalu aku harus bagaimana Mi? Aku nggak bisa melupakan itu semua”
Mami : “Bukan dilupakan Tari, tapi di-release…diikhlaskan…Kalau kamu ngga bisa mengikhlaskan sebuah masalah itu, dia akan mendatangi kamu lagi suatu saat nanti, entah besok, lusa, tahun depan, 5 tahun lagi, 10 tahun lagi, bahkan mungkin sepanjang kamu hidup. Karena, kamu nggak pernah menyelesaikannya. Kamu mau masalah ini terjadi sepanjang hidup kamu? Atau, kamu mau dihantui penyesalan seumur hidup kamu?”
(Lalu) Aku (Matari) menggeleng cepat.
Pelajaran kedua adalah…
Mami : “Tidak menggunakan jarimu untuk menunjuk dan menyalahkan orang lain”
Matari : “Maksudnya?”
Mami : “Terkadang dalam hidup, tanpa sadar mungkin kamu mudah sekali menunjuk orang lain sebagai penyebab kegagalan. Padahal barangkali kegagalan itu ada pada diri kamu sendiri”
Aku tersentil. Memang aku akui, setiap kali masalah ini terhidangkan di kepalaku, maka kemudaian aku akan banyak sekali menyalahkan banyak pihak, Bapak, Ibu, kakakku, atau keluargaku lainnya yang aku anggap tidak mendukung. Dan, aku merasa dirikulah yang paling benar.
Pelajaran ketiga adalah…
Mami : “Putuskan rantai dendam…”
Aku terdiam. Memikirkan dan membayangkan rasa itu. Apa selama ini hatiku sekotor itu? Rasanya aku tidak memiliki rasa dendam. Tapi, apakah sakit hati adalah bagian dari rasa dendam? Apakah kebencian juga turunan dari rasa dendam? Aku bukan orang pendendam, pikirku. Penyesalan terhadap masa lalu, apakah termasuk dendam? Kalau iya, maka aku putuskan saat ini juga untuk mengubur semua ini. Aku tidak mau menyeret-nyeretnya terlalu lama, Berat. Bukan hanya itu, mungkin juga busuk. Dan membuat aku kesulitan untuk melompat lebih tinggi. Aku ikhlaskan dirimu, duhai masa laluku. Aku makamkan engkau bersama kesedihan, keputusasaan, kekecewaan dan semua yang membuat aku nestapa. Ah, tapi kenapa sulit ya…
Dan satu lagi tentang ikhlas,,,
Ikhlas itu adalah bersyukur bahwa apa yang kita dapat hari ini adalah hal terbaik yang diberikan oleh Sang Pemilik Rezeki. Bahwa masalah yang kamu hadapi saat ini adalah rezeki terbaik bagi kamu. Ingat, Dia tidak pernah salah memilihkan peran dan skenario hidup seseorang.
Aku tertegun, Kalimat itu sederhana sekali. Tiba-tiba aku menjadi malu…ratusan kali aku mengucap ikhlas, tapi ternyata hanya sebatas kerongkongan…ikhlasku masih bersyarat…
Ah…banyak sekali aturan main yang aku langgar. Selama ini aku hanya berteriak pada wasit, menyalahkan lawanku, bahkan menyalahkan penonton karena tidak memberikan dukungan. Pantas aku tidak pernah memenangkan “permainan” ini…
Dan satu hal yang juga paling penting adalah perbaiki hubunganmu dengan Pemilik Jiwa-Mu…
Siapa tahu, Dia memberikan semua ini buatmu cuma dengan satu alasan…
Dia pengen lebih dekat sama kamu…
Aku merasa mukaku memerah, hatiku malu…
Sombongnya aku selalu menantang-Nya dan mengeluh, terus mengeluh tanpa memperbaiki hubunganku dengan-Nya. Aku merasa kurang mesra, biasa saja. Tapi Mami benar, mungkin ini cara-Nya mencuri perhatianku…
Beberapa kalimat yang tertera miring di atas adalah kalimat-kalimat yang rasanya sangat ditujukan untuk saya. Kalimat-kalimat yang membuat saya menitikkan air mata ketika membaca dan mencernanya. Seolah-olah saya sedang dinasehati oleh seorang Ibu yang…yang mungkin kurang saya ketahui hangat kasih sayangnya. Tapi yang namanya Ibu…memang ditakdirkan untuk selalu menjadi perantara penyejuk jiwa bagi buah hatinya. Kebetulan saja “Ibu” kali ini hadir lewat sapaan buku.
Well…jadi demikian hal penting yang menurut saya sangat penting untuk saya share dalam sebuah tulisan. Karena saya belum selesai membaca novel ini, maka akan saya lanjutkan dulu yah…
Semoga selanjutnya masih banyak kalimat-kalimat yang akan membantu memperbaiki nilai kita dalam sekolah kehidupan.
Thanks Mba Adenita.

0 komentar:
Posting Komentar