Menuliskan Pikiran, 4 Kunci Kebahagiaan

0
COMMENTS

Setiap pagi kepala saya penuh dengan ide-ide atau hal-hal baru yang saya anggap penting, ataupun yang saya anggap perlu untuk digarisbawahi. Mulai dari hal-hal kecil paling prinsipil dalam hidup saya sampai dengan pengetahuan baru yang membuat tertegun. Semua hal itu sering begitu saja pop out dan muncul dalam pikiran dan benak saya, dan seringkali dalam intensitas yang cukup padat. Hal tersebut membuat saya berpikir bahwa saya harus menuliskan hal-hal penting tersebut ke dalam bentuk apapun. Tapi seringnya, hal tersebut urung dilakukan seiring dengan kewajiban lain yang harus saya tunaikkan terlebih dahulu.

Seringnya, saya menuliskan hal-hal dan pemikiran penting itu pada situs-situs micro blogging yang dapat kita update hanya dengan satu kalimat saja. Hal itupun akan terasa wajar, namun terlalu sering menuangkan pemikiran dengan cara tersebut membuat saya kurang sabar, kurang berpikir panjang dan akan mudah sekali berganti-ganti fokus pikiran, alias gak fokus. Karena satu kalimat tersebut akan dengan mudahnya “disamber” orang lain dengan topik yang benar-benar melenceng jauh, padahal saat itu kita benar-benar sedang ingin membahas topik yang (menurut kita) bermutu.

Oleh karena itu mau tidak mau, aktivitas menulis dalam blog yang mampu menampung kalimat-kalimat yang lebih panjang (seperti di kompasiana ini) sangatlah diperlukan. Menulis seperti ini bisa menjadi terapi karena terdapat kaidah-kaidah tertentu dalam mengungkapkan tiap isi pikiran kita. Menulis akan sangat berbeda dengan hanya “curhat” dalam tulisan. Dan bagaimana membuat orang tertarik dan terpengaruh oleh sebuah tulisan-pun perlu jam terbang dan teknik lebih lanjut.

Walaupun tidak dapat dipungkiri bahwa gambar merupakan bentuk terbesar memori otak kita, tetapi merangkaikan kata demi kata dalam sebuah tulisan merupakan hal lain yang kata orang sangat diperlukan untuk belajar berkomunikasi (menurut Wenburg dan Wilmot, komunikasi adalah sebuah usaha untuk memperoleh makna - dari buku 9 Matahari, Adenita) Dan seringnya keberhasilan hidup kita diukur dari kemampuan kita untuk berkomunikasi, pertama dengan diri sendiri, lalu selanjutnya adalah kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain.

Okay, lalu yang ingin saya tuliskan disini sebenarnya adalah tentang beberapa kalimat di sebuah buku yang rasanya…penulisnya seperti sangat “mengerti” apa yang sedang saya alami, meskipun sebagian besar fakta yang ada membuat saya jauh lebih bersyukur. Dengan kata lain, keadaan saya jauh lebih baik dari tokoh yang diceritakan dalam buku itu. Adalah buku 9 matahari yang belum selesai saya baca (baru separo) tapi beberapa kalimat dalam buku itu membuat saya merasa “ditemani” dan diingatkan kembali tentang beberapa nilai positif dalam hidup. Oleh karena itu, supaya makna yang mendalam itu tidak luntur dan terlupakan dengan segera, saya harus menuliskannya disini. Mba Adenita, tulisan Anda sangat membantu saya, semoga tidak berhenti sampai disini, tapi tetap dapat saya “buka” lagi sampai kapanpun.

Buku ini bercerita tentang perjuangan seorang perempuan dalam menggapai cita-cita dan impian yang diinginkannya. Bagaimana dia merasa pernah putus asa, sampai tidak dapat membedakan mana hal yang sudah terjadi, belum terjadi dan hal-hal yang merupakan khayalannya saja. Terdengar klise memang, tapi jika hal ini sedikit banyak mempunyai kesamaan dengan apa yang Anda rasakan, tentu saja hal ini akan menjadi istimewa.

Bagian yang sampai saat ini paling menyentuh saya adalah ketika diceritakan bahwa Matari (tokoh utama) mengalami puncak depresi selama 3 minggu. Lalu ketika lewat 3 minggu, dia diperkenalkan tentang “sekolah kehidupan” oleh Ibu sahabatnya. Dia disadarkan tentang kemungkinan bahwa dia adalah “Peri Cahaya” dalam kehidupan keluarganya. Dia disadarkan tentang betapa berharganya dirinya.

Pelajaran pertama adalah tentang “ikhlas”…ikhlas dengan segala keadaan dan kejadian yang pernah kita alami…
Matari : “Lalu aku harus bagaimana Mi? Aku nggak bisa melupakan itu semua”
Mami : “Bukan dilupakan Tari, tapi di-release…diikhlaskan…Kalau kamu ngga bisa mengikhlaskan sebuah masalah itu, dia akan mendatangi kamu lagi suatu saat nanti, entah besok, lusa, tahun depan, 5 tahun lagi, 10 tahun lagi, bahkan mungkin sepanjang kamu hidup. Karena, kamu nggak pernah menyelesaikannya. Kamu mau masalah ini terjadi sepanjang hidup kamu? Atau, kamu mau dihantui penyesalan seumur hidup kamu?”
(Lalu) Aku (Matari) menggeleng cepat.

Pelajaran kedua adalah…
Mami : “Tidak menggunakan jarimu untuk menunjuk dan menyalahkan orang lain”
Matari : “Maksudnya?”
Mami : “Terkadang dalam hidup, tanpa sadar mungkin kamu mudah sekali menunjuk orang lain sebagai penyebab kegagalan. Padahal barangkali kegagalan itu ada pada diri kamu sendiri”
Aku tersentil. Memang aku akui, setiap kali masalah ini terhidangkan di kepalaku, maka kemudaian aku akan banyak sekali menyalahkan banyak pihak, Bapak, Ibu, kakakku, atau keluargaku lainnya yang aku anggap tidak mendukung. Dan, aku merasa dirikulah yang paling benar.

Pelajaran ketiga adalah…
Mami : “Putuskan rantai dendam…”
Aku terdiam. Memikirkan dan membayangkan rasa itu. Apa selama ini hatiku sekotor itu? Rasanya aku tidak memiliki rasa dendam. Tapi, apakah sakit hati adalah bagian dari rasa dendam? Apakah kebencian juga turunan dari rasa dendam? Aku bukan orang pendendam, pikirku. Penyesalan terhadap masa lalu, apakah termasuk dendam? Kalau iya, maka aku putuskan saat ini juga untuk mengubur semua ini. Aku tidak mau menyeret-nyeretnya terlalu lama, Berat. Bukan hanya itu, mungkin juga busuk. Dan membuat aku kesulitan untuk melompat lebih tinggi. Aku ikhlaskan dirimu, duhai masa laluku. Aku makamkan engkau bersama kesedihan, keputusasaan, kekecewaan dan semua yang membuat aku nestapa. Ah, tapi kenapa sulit ya…

Dan satu lagi tentang ikhlas,,,
Ikhlas itu adalah bersyukur bahwa apa yang kita dapat hari ini adalah hal terbaik yang diberikan oleh Sang Pemilik Rezeki. Bahwa masalah yang kamu hadapi saat ini adalah rezeki terbaik bagi kamu. Ingat, Dia tidak pernah salah memilihkan peran dan skenario hidup seseorang.
Aku tertegun, Kalimat itu sederhana sekali. Tiba-tiba aku menjadi malu…ratusan kali aku mengucap ikhlas, tapi ternyata hanya sebatas kerongkongan…ikhlasku masih bersyarat…
Ah…banyak sekali aturan main yang aku langgar. Selama ini aku hanya berteriak pada wasit, menyalahkan lawanku, bahkan menyalahkan penonton karena tidak memberikan dukungan. Pantas aku tidak pernah memenangkan “permainan” ini…

Dan satu hal yang juga paling penting adalah perbaiki hubunganmu dengan Pemilik Jiwa-Mu…
Siapa tahu, Dia memberikan semua ini buatmu cuma dengan satu alasan…
Dia pengen lebih dekat sama kamu…

Aku merasa mukaku memerah, hatiku malu…
Sombongnya aku selalu menantang-Nya dan mengeluh, terus mengeluh tanpa memperbaiki hubunganku dengan-Nya. Aku merasa kurang mesra, biasa saja. Tapi Mami benar, mungkin ini cara-Nya mencuri perhatianku…

Beberapa kalimat yang tertera miring di atas adalah kalimat-kalimat yang rasanya sangat ditujukan untuk saya. Kalimat-kalimat yang membuat saya menitikkan air mata ketika membaca dan mencernanya. Seolah-olah saya sedang dinasehati oleh seorang Ibu yang…yang mungkin kurang saya ketahui hangat kasih sayangnya. Tapi yang namanya Ibu…memang ditakdirkan untuk selalu menjadi perantara penyejuk jiwa bagi buah hatinya. Kebetulan saja “Ibu” kali ini hadir lewat sapaan buku.

Well…jadi demikian hal penting yang menurut saya sangat penting untuk saya share dalam sebuah tulisan. Karena saya belum selesai membaca novel ini, maka akan saya lanjutkan dulu yah…
Semoga selanjutnya masih banyak kalimat-kalimat yang akan membantu memperbaiki nilai kita dalam sekolah kehidupan.
Thanks Mba Adenita.

Bad mind, Bad mind, Go Away!

0
COMMENTS
(21.15) Alhamdulillaaaaaah,

“Hari ini tidak seburuk yang saya bayangkan pagi tadi”, ini adalah kalimat pertama yang saya ucapkan dalam hati ketika hendak melangkahkan kaki pulang dari kantor.

Sambil tersenyum dalam arti sebenarnya (dan di dalam hati juga), saya kemudian flash back kepada kekonyolan-kekonyolan yang sudah saya lakukan sendiri semalaman (!!!) sehingga membuat saya resah, gelisah, kepala berdenyut-denyut, tidak bisa konsentrasi, hampir tidak bisa tidur dan hampir memutuskan untuk tidak berangkat ke kantor pagi tadi. Iya, saya telah melakukan hal bodoh hampir semalaman, hanya karena pemikiran buruk saya sendiri (!!!) Hanya karena ketakutan diri saya sendiri (!!!) yang awalnya datang dari rasa bersalah. Saya memilih lari.

Saya mulai ketakutan setelah habis maghrib, ketika datang sebuah sms. Karena takut dengan isi sms itu, karena merasa bersalah bahwa saya belum melaksanakan amanat yang (mungkin) terdapat dalam pesan itu, saya mematikan handphone, sambil berusaha menenangkan diri, memberi sugesti-sugesti positif dan hal-hal lain sejenisnya. Saya bermuka kusut, bernada kesal kepada hampir setiap orang dan hanya menyendiri di atas semalaman. Mulai dari mencari-cari alasan, mencari-cari orang, sampai mencari-cari artikel tentang resign.
Tapi apa? Akhirnya saya menyerah dengan memaksa diri untuk tidur (dan tidak melaksanakan amanat tadi juga)
—-
Pagi harinya…saya bangun pagi sebenarnya. Tapi entah bagaimana, si pikiran buruk ini menguasai hampir 85% jiwa dan raga saya. Sehingga saya baru beranjak bangun dari kasur pukul 07.15 dan baru berangkat ke kantor pukul 09.00 (antara 07.15 sampe pukul 09.00 saya ‘menenangkan diri’ dengan tidak jelas) Setelah membaca basmalah dan menstarter motor, sepanjang jalan saya hanya beristighfar dan memikirkan hal-hal mengenai resign. Pokoknya pagi tadi saya kalut sekali.

Sesampainya di kantor saya baru menyalakan handphone (sebagai bagian sebuah skenario alasan) setelah semalaman saya matikan. Bahkan saya samasekali tidak sms atau menelepon pacar saya, malam itu. Beberapa detik setelah saya nyalakan, sms yang membuat saya ketakutan semalaman itu masih disana. Gambar amplopnya-pun masih tertutup, tanda belum terbaca. Tidak sampai 5 detik kemudian…saya rasanya mau ngakak, tapi juga ada rasa lega yang sangaaat dalam di dada saya, karena…sms itu KOSONG!!! yaaa, tidak ada isinya (!!!)

Ya Alloooooooooooh…rasanya saya mau ngakak guling-guling sambil menunjuk-nunjuk diri sendiri, memegang perut menahan tawa-menertawakan diri saya sendiri yang semalaman bertingkah polah seperti badut kurang kerjaan, sok kusut. Astaghfirullahhalladziiiim, benar-benar saya merasa bodooooh sekali, bodoh sekali. Bertanya-tanya dengan “bodoh”, bahwa…bagaimana mungkin saya sampai sebodoh itu semalaman, seperti itu, untuk hal yang…tidak ada (???!!!)

Walaupun memang ada sms kedua yang berasal dari orang yang sama, tapi…isi smsnya santai sekali, bercanda tentang isi sms pertama yang kosong tadi. Dan untuk kedua kalinya saya memuji si pengirim ini, “dia baik sekaliiiiiiiiiiii!!!”, karena saya merasa telah berulang kali mengecewakannya, tapi dia masih tetap memberi kesempatan pada saya, entah apapun itu alasannya.

Itu baru kelegaan pertama, masih ada beberapa kelegaan lagi yang intinya berbunyi…
* “saya beruntung berada disini”
* “saya harus menunjukkan sesuatu disini”
* “saya harus memberikan sesuatu yang lebih (khususnya) disini”
* “saya harus belajar banyak hal dari sini”
* “saya harus mendapat banyak hal di sini”
* “saya harus banyak belajar dari orang itu”

Subhanallah, benar bahwa segala keburukan itu hanyalah milik manusia, dan segala kesempurnaan hanyalah milik-Nya. Pemikiran-pemikiran buruk dan jahat (apalagi berlebihan) akan benar-benar menghancurkan kepala kita, memusnahkan akal sehat kita. Dan ketika akal sehat kita dihancurkan bertubi-tubi oleh diri sendiri, maka akan lemahlah segenap jiwa raga kita. Jadi intinya pelajaran hari ini adalah…
1. lari dari masalah memang terbukti merugikan
2. pikiran buruk dari kepala sendiri adalah MOMOK paling menakutkan. Percaya sama saya.
3. better open your mind, open your heart, be prepare and be brave!!!!!!!4. be brave, tamara. Be brave!!!!
5. whatever it takes, be brave!!!!!!!

Dunia Maya, Dunia Nyata

0
COMMENTS
okay, kali ini saya menulis lagi.
Berbeda dengan biasanya, kali ini saya menulis lewat fasilitas mobile. Fasilitas yang banyak sekali membantu kita beraktifitas, bersenang-senang, etc.
Mobile, mobile, mobile.

Pernahkah anda merasa terinterupsi dengan aktivitas dunia maya yang ditawarkan (khususnya) oleh mobile tools?
Pernahkah anda merasa demikian tapi tidak mempedulikannya, sampai akhirnya anda sadar bahwa kehidupan anda mulai tidak seimbang?
Fasilitas mobile yang seharusnya membuat kita ‘mobile’, malah seringkali membuat kita berdiam pada suatu tempat, di satu titik. While di sekitar kita, dunia bergerak dengan begitu cepatnya.
Lalu coba kita bandingkan dua variabel di dalamnya, bahwa antara mobile world dan real world terdapat ‘maya dan nyata’.

Pernahkah anda bertanya, “telah seimbangkah dunia maya dan nyata gw?”
No hard feeling guys, karena sebenarnya tolok ukurnya disini adalah kehidupan saya sendiri.
Saya sedang merasa keseimbangan itu mulai terganggu. Saya mulai tidak terlalu sensitif dengan hal-hal nyata di dunia saya. Semuanya sedang berputar di sekitar mengetik alamat-alamat di browser saya saja. Dan itu mengganggu saya.

Lalu akhirnya saya putuskan melepaskan satu ‘keluarga besar’ maya saya yang sangat saya cintai setahun terakhir ini. Saya menghapus account saya. Dengan harapan saya akan berkarya lebih banyak di dunia nyata.
Rasa kehilangan tentu saja muncul dengan hebatnya, karena dari sana saya mengenal teman-teman nyata yang baru. Mendapat banyak ilmu, banyak kata-kata bijak, mengenal karakter orang, sampai pekerjaan.

Ah iya…dan satu lagi, saya jadi tahu orang-orang mana saja yang menganggap saya berarti. Orang-orang mana saja yang menyempatkan pm saya, menanyakan mengapa saya pergi, menyatakan sedih ketika saya pergi, berharap saya segera kembali, etc.
Bahkan saya sungguh terharu ketika ada yang membuat kembali account dengan id lama saya dan memberitahukan passwordnya pada saya. Saya agak tersanjung sebenarnya. (hahaaa, biar saja kalo orangnya membaca ini dan menganggap saya konyol atau lebai)
Tapi memang sebagian besar memilih diam, tidak peduli. Atau lebih tepatnya harusnya mungkin demikian, bahwa dunia maya tidak boleh pake hati. Karena memang tidak ada yang lebih menyakitkan dibanding “dianggap maya”